Senin, 06 April 2020

Cerpen: Biar Aku Yang Mengalah

April 06, 2020 0 Comments
Biarkan aku yang mengalah



Andai waktu bisa berhenti....

Malam yang sejuk mengiringi kesepianku, menemaniku yang tengah sendiri menatap indahnya bintang, sebagai teman yang paling setia dalam keseharianku yang tak menyenangkan
Oh tuhan, kapan semua akan berubah? Tanyaku dalam pengharapan
Tiba – tiba pintu kamarku di ketup dengan pelan, pasti mama memberi tahu makan malam
“wah ada ayam bakar nie, “maknyus” ucapku sembari menduduki kursi favorit
“dasar gak sopan! Sindir papa padaku
“duduk dulu baru ngomong, kan ada mama sama papa di sini, jadi sopan dikit kak! Timpal sinta adikku
“ya ayi betul tuh kata sinta, contoh dia! Tambah mama lagi
“ok, aku pergi silahkan makan !
Aku langsung ke kamar tampa menyentuh makanan di sana, padahal sebenarnya lambungku kambu dan terasa sangat perih, tapi lebih perih lagi di saat aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka yang ku sayang.
Matahari menembus jendela kamarku, di saat aku masih tertidur lelap hingga terbangun karena silaunya sinar matahari yang menerpa mata.
“humm udah pagi ! ucapku pada diri sendiri
Aku bergegas mandi dan memakai seragam sekolah dengan aksesoris ungu yang lengkap, pagi ini aku tidak ingin sarapan.
Setibanya di sekolah, aku menuju ruang tempatku ulangan, jadwal hari ini adalah matematika dan bahasa inggris, pelajaran menghitung yang sangat menyebalkan hingga kertas ulanganku sampai tak terisi, inilah kehebatanku semua kertas dapat ku isi dengan mudah karena sejak kecik aku sangat suka bahasa inggris. Seperti om hadi dan tante icut yang sangat menyayangiku lebih dari oarang tuaku. Namun kini mereka telah pindah dengan anaknya hafiz.
Waktu seakan berjalan dengan cepat kini saatnya ambil rapor, aku dan sinta berbeda kelas dan sekolah, aku kelas 2 SMA sedangkan dia kelas 3 smp, kalau sinta sengaja papa sekolahin di SMP favorit sedangkan aku di SMA yang di dalamnya hanyalah siswa buangan dari sekolah lain
“ Pa... ambil rapor ayi ya? Pinta
“ Papa sudah janji sama sinta kalau papa yang kan ambil rapornya, kan kalian beda sekolah!
“ Ma ambil rapor ayi ya ! pintaku sama mama
“ mama juga sudah janji sama sinta untuk temani Papa, dia sudah kelas 3 jadi harus di wakili ! Jawab mama
“ Oh... gitu ya ! balasku dengan kecewa
Aku hanya bisa menangis sendirian di kamar, tidak ada seorangpun yang mengambil raporku, aku terpaksa mengambilnya seorang diri, tapi usahaku tidak sia – sia aku juara satu.
Sesampai di rumah, semua orang sedang tertawa ria melihat hasil belajar sinta, semua terdiam saat kedatanganku.
“ Gi mana hasilnya kak ayi? Pasti jelek ! ucapan sinta menyindirku
“ Gak kok aku juara satu! Ucapku dengan semangat
“Oh..., juara satu di sekolahmu pasti juara terakhir di sekolah sinta ! ledek papa
Aku kecewa, benar – benar kecewa karena semua prestasi yang ku raih tak pernah di hargai sama sekali. Dengan air mata berurai, aku menuju ke kamar, kuratapi semua ketidak adilan ini, dua hari aku tidak keluar kamar, hanya bisa meratapi sendiri, tak ada yang mencoba untuk peduli, semua sibuk dengan kegiatan masing – masing.
Di hari ke 3 aksi diam ku di kamar, tiba – tiba runahku terdengar suara yang sangatku kenal, ternyata hari ini keluarga Om Hadi sudah tiba di rumahku untuk berlibur bersama keluarganya dan kami.
“ Hafiz, aku sangat merindukanmu! Ucapku dengan tertunduk lesu di kamar
Aku keluar kamar untuk menemuinya, namun ternyata dia sudah berubah dan tidak peduli lagi padaku, semu benar – benar berubah janjinya di ingkari untuk menemuiku, perhatianku sia – sia , semua orang sudah membenci dan menjauhiku, Om Hadi dan Tante Icut berubah. Semua orang mengucilkanku di sini
Akhirnya hari yang telah lamaku nantikan tiba juga, hari ini pertandingan karateku akan berlangsung namun sayang semua orang yang ku sayangi tak ada yang mau hadir . semua memilih hadir di lomba sinta “ olimpiade SAINS “ walaupun dengan kekecewaan akanku buktikan bahwa aku adalah Ayi yang hebat, keinginku terwujud aku menang dan meraih juara satu di pertandingan karate nasional.
Setibanya di rumah, kuletakkan foto keberhasilanku di ruang tamu , namun di saat kedatangan sinta dan lainnya ku lihat kemurungan di sana dan setelah melihat foto keberhasilanku, sinta mulai menangis dan , masuk kedalam kamarnya.
“ Kamu sengaja mengledek sinta ”? tanya Papa dengan sinis
“ Gak pa ! maksud papa apa sih ”? tanyaku tak mengerti
“ Sinta kalah sedangkan kamu menyombongkan diri dengan memajang fotomu di ruang ini, kamu tahukan bahwa di ruang ini hanya foto – foto keberhasilan sinta yang boleh menepatinya ”!
“ Lepas fotomu”! Bentak Mama padaKu
Ku lepas foto yang sangat ku harapkan menjadi penghubung agar keluargaku menyanjung sebuah harapan yang dari dulu kuharapkan,karena ku selalu ingin disetiap Sinta dipuji dan disanjung oleh Mama Papa.Serta semua tamu yang berkunjung kerumahku. Sekarang pertanyaan terbesarku adalah  “apakah aku anak kandung mu Ma ? Pa?”
 Pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh lisan,namun terjawab oleh perbuatan mereka padaku,seorang anak yang tersingkirkan oleh keadilan.
Hari demi hari terus berganti,semenjak itu,Sinta menjadi seorang yang terpurung. Aku bisa merasakan perasaannya yang tertekan karena kalah olimpiade. Yang ku tahu,adikku ini terlihat lemah dari yang biasanya.
 “udahlah dek,gak ada gunanya ditangisi terus,! Ucapku menyemangati.
 “udahlah  kak, kamu senang kan ngeliat aku kayak gini?
Kamu senang kan?ngeliat aku kalah,! Jawabnya dengan menangis.”
“enggak Sinta,aku gak pernah ada niat kayak gitu,”sahutku.
 “udahlah pergi dari kamarku,pergiii..........
Ucapannya terpotong karena dia terjatuh tepat di depanku, “Pa.....Ma..... tolong  Sinta ,Sinta pingsan pa”!. teriakku.
  Hari ini adalah hari seminggu sebelum ulang tahunku dengan Sinta. Kebetulan kami lahir di tanggal dan bulan yang sama.Aku takut kehilangannya  sangat ku sayangi. Dokter bilang  ginjalnya sudah benar-benar rusak.Yang aku tahu,kini ginjalnya sudah diangkat.Sedangkan aku masih punya dua ginjal.
  “Hanya saudara kandungnya yang ginjalnya cocok dengan Sinta ,jadi usahakan dengan secepat mungkin pencengkokan diadakan Pak.”! Jelas dokter.
  Setelah itu, aku menjadi sasaran semua orang yang menyayangi Sinta. Semuanya memintaku untuk mendonor satu ginjal untuknya. Tekadku memang sudah bulat bahwa aku mendonorkan kedua ginjalku untuk Sinta. Tetapi aku tidak ingin ada yang tau, karena aku gak mau mereka menyayangiku karena bersimpati denganku yang telah memberikan satu ginjalku, aku hanya ingin kasih sayang yang tulus dari mereka, entahlah bagaimana caranya agar aku mendapatkannya .
“Ah sudahlah Ayi, kamu memang saudara yang kejam, hanya menyumbangkan satu ginjal saja kamu gak mau, untunglah ada seorang yang baik hati yang mau menyumbangkan pada sinta..” ! ucap papa
“Aku kecewa sama kamu Ayi teganya kamu sama saudara kamu sendiri ! ucap hafiz dengan kecewa padaku
“siapa yang medonorkannya pa? tanya mama
“entahlah pendonor itu tidak mau di beri tau namanya , bahkan iya memberikan 2 ginjalnya dengan gratis, dia benar – benar berhati malaikat ! jawab papa
“andaikan kalian tau itu aku, apakah aku akan di beri penghargaan dari papa ? batin ku
Beberapa jam sebelum operasi aku menulis sebuah surat untuk semua orang yang ku sayangi. Entahlah aku akan meninggalkan mereka semua, aku sudah sangat lelah dengan semua ini.
Operasi pun di lakukan....
Seminggu kemudian...
“ akhirnya kamu sembuh juga sayang, mama khawatir banget sama kamu, untung ada pendonor itu..”! uap mama
Dan..... HAPPY BIRDHDAYS SINTAAAAA..... ucap semua orang serentak
Makasih ya semua!. Aku senang banget. Oh iya , Ayi mana Ma? Gak tau kenapa sinta kepikir dia terus, hari ini ulangtahun kami ! sahut sinta
Mama langsung menuju ke kamar Ayi, tetapi ayi tidak ada, yang di lihat Mama adalah surat yang di tinggalkan Ayi. Kemudian Mama membacakannya dengan besar

Untuk semua orang yang sangat ayi sayang, mungkin saat kalian membaca surat ini ayi sudah gak ada lagi disini. Ayi sudah pergi ke tempat yang sangat jauh, oh ya gie mana kabar sinta ? gak sakit lagikan? Semoga ginjalku dapat membantumu meraih semua mimpimu yang belum terwujud.
Untuk papa yang sangatku rindukan.
Gie mana pa? rumah kita sudah tenang kan? Gak ada yang gak sopan lagikan, oh pasti gak adalah. Si Ayi pembuat onar sudah tidak ada.
Terutama mama yang sangat ku rindukan.
Ma, Ayi pasti sangat merindukan teddy bear pemberian Mama yang lima tahun yang lalu. Ma, Ayi kangen banget pelukan. Ayi selalu iri saat Mama mencium sinta di saat mau tidur, iri semua perhatian Mama buat sinta
Untuk adikku sinta. Gie mana gak ada lagikan yang ganggu kamu belajar , yang menyetel musik keras – keras, pasti rumah kita sudah tenang ya! Dan pastinnya gak akan ada lagi yang membuat kamu malu karena mempunyai saudara yang bodoh. Selamat ulang tahun sinta, selamat menjalani umurmu yang 15 tahun.
Kalian semua harus tau aku sangat menyayangi kalian , mungkin dengan kepergianku, semuanya akan tenang dan Ayi harap tidak ada lagi yang terkucilkan, yang menangis setiap malamnya, Semoga kalian semua bahagia.

AJRIA AYI FHONNA

Semua yang mendengar menangis. Mereka bertanya – tanya Ayi di mana, namun telepon rumah berbunyi......
“ya saya Frans ? tanya papa dengan penuh penasaran dan sesaat papa menangis dan mengajak keluarganya ke rumah sakit , semuanya terlambat Ayi sudah pergi untuk selamanya, yang meninggalkan berjuta penyesalan di setia tangisan yang jatuh, kini ayi telah pergi jauh dan tenang yang jauh dari ketidak adilan selama ini walaupun air mata telah menangisi, dia telah pergi untuk selamanya. Meniggalkan gundukan tanah sebagai kenangan. Tamat
Ttd ipahalhabsyi

Minggu, 05 April 2020

Cerpen : Terbelenggu Antara Karang Duka

April 05, 2020 0 Comments
*Terbelenggu Antara Karang Duka*



Izinkan ku lukiskan cinta dan sayang untuk keluarga yang ku kasihi....

Malam ini, sebuah pertengkaran hebat terjadi di rumah besarku, aku tertunduk tak berdaya di sudut-sudut kamar, tubuhku bergetar hebat, air mata membasahi pipi, menangis meraung sebisaku, air mata terus mengalir bagaikan derasnya hujan di musim dingin, seperti sungai yang sangat deras, tanpa ada yang tau di mana ujungnya, yang seperti kehidupanku tanpa ada yang tahu kapan kebahagiaan itu hadir, tidak peduli kelopak mataku mulai membengkak, air mata terus keluar tanpa henti..
Malam ini kesedihanku sungguh mendalam, aku menangis dalam kesepian sang malam, tepat tengah malam pertengkaran itu berakhir, namun, rasa sakit di relung hati masih sangat melekat, ku peluk erat adik kesayangan dalam kerenggangan sang malam.
“ bersabarlah dik. Kakak akan menjagamu, kita akan berjuang berdua dalam hidup..”! batinku
*
Pagi yang sangat melelahkan, aku terbangun dari tidur malamku, mata terasa membengkak, kesedihan merajut dalam hatiku, adik yang tidur di sampingku terbangun, tiba-tiba dia menanyakan kepadaku..
“ kenapa papa sama mama semalam kak?”
“ kakak tidak tahu dik, kamu main sana jangan terlalu berpikir masalah semalam, tetapi sebelumnya kamu mandi dan makan dulu”! jelasku
Farhan menuruti perkataanku, dia pergi mandidan makan, kebetulan aku sudah memasak ala kadar untuk sarapan Farhan, namun, jelas dari wajahnya dia heran dengan sikapku yang mengalihkan pembicaraan. Karang duka dalam hatikuserasa beranak- pinak, tanpa ampun merampas kebahagiaanku secara paksa, yang tidak sanggup untukku pertahankan, hari-hari yang kulalui tidak secerah yang dulu, apa yang ku harapkan semua telah sirna, bunga-bunga keharmonisan dalam keluargaku telah hilang, hampir setiap hari pertengkaran itu terjadi. Tidak ada lagi ketenangan dalam hari-hariku, semua berubah menjadi lubang duka.
Semenjak kejadian yang selalu menghiasi keluargaku, Farhan sering tidak masuk sekolah, berkali-kali aku menegurnya, namun iya tidak pernah berhenti untuk tidak bolos lagi, prestasinya menurun drastis, aku sedih dengan semua ini, adik kesayanganku tidak lagi seceria dulu, sekarang dia telah berubah menjadi anak yang pendiam, suka membuat masalah disekolah, tugas tidak pernah dikerjakan, sudah dua kali berturut-turut mama di panggil ke sekolah Farhan, mama marah besar kepadaku dan Farhan, hingga aku tak sanggup mendengarkannya lagi.
“ ma, ini semua salah mama dan papa, jika seandainya mama dan ppa tidak sering bertengkar, mungkin Farhan tidak akan seperti ini..!” lantasku
“ jadi kamu menyalahkan mama, apa kamu tidak tahu apa kesalahan papamu?”
“ iya.. tapi kan bisa di bicarakan ma, tidak harus bertengkar terus, seharusnya mama dan papa malu, anak mama sudah besar mama harusnya memberi conton yang baik untuk kami.!”
Air mata membasahi pipiku, tangisan yang tidak sanggup ku bendung lagi,, aku berlari memasuki kamar, aku hanya bisa menangis, , mama berusaha membujukku agar mau keluar, ama hanya bisa membujuk.
“ mika keluar nak, mama ingin bicara sama kamu!”
“ enggak ada yang perlu mama bilang,semua juga sudah jelas, mama sama papa gak sayang lagi sama kami, aku lagi pengen sendiri ma.!”
“ tetapi kamu harus tau apa yang sebenarnya terjadi, tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan nak!”
“enggak ma!” jawabku tegas
“ yasudah, kalau kamu memang bersikeras tidak mau keluar, yang penting mama sudah membujukmu untuk keluar agar kamu tahu yang sebenarnya terjadi.!”
mama pergi meninggalkanku, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam kesendirian.
Pada keesokan harinya, tepat hari pertama aku kembali masuk sekolah, setelah seminggu kami di perliburkan karena UN kakak kelas 3 dan hari itu pula dimana kami mulai belajar seperti biasa, namun, ada satu hal yang sangat tidak ku sukai, yaitu saat aku bersama teman-teman, pasti diantara mereka ada yang menceritakan kebahagiaan yang dia rasakan bersama keluarganya.
Aku termenung dengan kejadian yang selalu terjadi, semua semangatku hilang, tinggal puing kebahagiaan yang telah retak yang menyebabkan kebencian.
 “ ya Allah, aku tahu jika ini jalan yang terbaik yang Engkau berikan kepada ku, aku percaya suatu saat nanti yang aku rasakan akan indah ada waktunya.!” Batinku
Air mata nakal itu keluar membasahi pipiku, rasa rindu bermanja kepada orang tua hadir begitu saja.
“ lho, kamu kenapa Mik?” tanya Rara sahabatku
“ aku gak apa-apa Ra.!” Jawabku menghapus air mata
“ Mik lihat aku, apa kamu baru mengenaliku? Hingga kamu sangat berat untuk menceritakan yang sebenarnya, aku ini sahabatmu, jadi aku bisa tahu kalau kamu pasti lagi sedih..!”
HENING.....
Aku hanya terdiam tidak dapat mengungkapkan kata, mulut sangat berat untuk menceritakan yang sebenarnya, jantung seakan berdetak begitu cepat, Rara menunggu kata-kata keluar dari mulutku, aku memutuskan untuk coba mengungkapkan semua itu..
“ mama sama papa selalu bertengkar Ra!” jawabku dengan suara tangisan yang lirih
“ masalahnya apa?”
“ aku gak tau Ra, yang jelas setiap malam aku mendengar kata-kata kotor keluar dari mulut mereka, aku sedih Ra, Farhan juga sekarang berubah, dia jadi pendiam dan nilai sekolahnya menurun, berkali-kali aku menegurnya, tapi, iya pasti akan mengulanginya lagi, selalu iya menanyakannya padaku, tapi tak pernah ada jawaban yang dapat ku utarakan!” aku semakin menangis.
Rara mendengar dengan sabar, air mata terus membasahi pipiku, dengan senang hati Rara menyediakan bahunya tempat untukku bersandar, juga tangannya yang setia menghapus air mataku, ku dengar semua solusi yang dia berikan untuk menenangkanku.
Semenjak itu, aku sadar harus menerima semua keputusan orang tuaku meski kami anaknya yang menjadi korban dan menanggung semua karang duka ini.
Pagi itu aku bangun seperti biasa, kemudian berangkat ke sekolah tepat saat pukul 07:00 , sesampai di sekolah aku berdiam diri di sudut sekolah kesukaanku untuk menyendiri sembari menunggu bel masuk berbunyi, otakku terus berpikir cara untuk mama dan papa supaya bisa baikan, namun, satu pertanyaan dalam benakku muncul, aku tidak tahu permasalahan apa yang membuat mereka selalu bertengkar, hari-hari terus ku lewati dengan lembaran-lembaran kehidupan yang suram dan sulit untuk ku pahami, jelas aku ingin mengubah hari-hariku menjadi lebih indah ingin ku tulis hal-hal yang indah itu dalam buku harian dan dengan bangga dapatku simpan dalam keseharianku, dan juga akan selalu punya cerita untuk berbagi engan teman maupun sahabat tentang bahagianya keluargaku.
Khayalan itu terus keluar dari kepalaku, hati terasa panas dan jenuh, ingi rasanya agar harapan itu segera terwujud, entah itu akan bisa atau tidak, namun, itulah harapan terindah dalam hidupku.
“ Mikaa...!”
Aku berpaling mencari arah suara itu, namun, Nisa telah berada di belakangku, seorang anak rohis di sekolah kami yang terkenal tidak pernah bergaul dengan cowok dan anak yang tidak baik menurutnya.
“ eh. Nisa, !”
“kenapa Mik?” tanya Nisa pelan
“ apanya yang kenapa Nis?”
“ kamu keliatan sedih, ya aku tanyak kenapa?”
“ aku gak sedih kok, ngomong-ngomong  kok tumben ya kamu disini?”
“ ya aku mau ketemu kamu laaah..!”
“aku?”Tanyaku heran
 “ iya kamu, jangan bohong Mika, kamu pasti lagi ada masalah kan? Sekarang aku pindah rumah di samping rumah kamu, dan maaf hampir setiap malam aku mendengar ada orang bertengkar, udah dari kemaren aku pengen nanya sama kamu, tapi aku tahan dan sekarang baru sempat, bukan maksud aku ingin ikut campur masalah keluarga kamu, tapi aku gak tega aja liat kamu sedih terus, ya walau kita bukan teman dekat!” jelas Nisa
Aku mengerti niat baik Nisa, tiba-tiba air mataku keluar,
“ aku emang sedih nis, mama sama papa lagi ada masalah serius!”
“ apa kamu tahu masalahnya apa?”
“ aku gak tau Nis, tapi aku sedih, dan aku juga malu sama tetangga..!”
“ udah, semua orang punya masalah Mik..!”
“ iya aku tahu.. tapi aku udah lelah Nis..!” ucap ku dengan air matadi pipi
“ nantik sore gimana kalau kamu ikut aku?”
“ kemana?”
“nantik kamu akan tahu sendiri kok, Insya Allah kamu akan mengerti tentang masalah ini...!”
*
Sorenya aku di jemput Nisa dengan sepeda motor vario nya, aku jelas tidak tahu kemana dia akan membawaku, aku pasrah, aku sangat ingin agar aku dapat menerima perpisahan papa dan mama, dan menerima dengan lapang dada, juga mengambil hikmah dari semua ini,
“ nah, kita sudah sampai..!”
“lho, ini kan rumah ustadz Fahri..!” aku heran
“ iya, kesinilah aku mau ajak kamu Mik..!”
“ tapi kenapa Nis?”
“udah jangan ngomong, nantik kamu pasti akan tahu,!”
Tanpa berpikir panjang lagi, Nisa langsung menarik tanganku untuk langsung masuk ke dalam rumah ustadz Fahri, setelah mengucapkan salam dan ustadz mempersilahkan kami duduk di kursi yang telah di sediakan.
“begini ustadz, kam.....
“ Insya Allah saya sudah tahu nak..! ucap ustadz tanpa sempat di beri tahu oleh Nisa.
Aku yang sedari tadi tanpa bersua, kaget mendengar bahwa ustadz itu sudah tahu, mungkankah dia tahu mama dan papa selalu bertengkar? Akankan sejauh ini berita itu tersebar? Air mat mulai menetes dari kelopak mataku, tiba-tiba....
“ tidak apa-apa nak, tidak ada yang kasih tau sama saya, justru saya yang tahu sendiri, jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak...! ucap ustadz seakan tahu apa yang ada dalam pikiranku
Aku tersentak, sedetail itu dia tahu, bahkan apa yang sedang ku pikirkan dia tahu, Nisa tersenyum melihat ketakjubanku,
“ jadi bagaimana kah solusinya ustadz?” tanya Nisa memulai pembicaraan
Ustadz memperbaiki duduknya,
“begina nak, cobalah untuk menerima semua itu, kita harus bisa mencontoh rasul kita, yang meninggal ayah dan ibu saat beliau masih kecil nak, masalah yang Allah berikan untuk kita tidak lebih parah dari masalah kepada rasul kita, kita harus bisa mengambil hikmah dari semua ini...!”
“ tetapi saya susah untuk ikhlas ustadz,,!”
“ tidak ada yang susah nak, satu kebahagiaan kita ikhlaskan, pasti akan ada kebahagiaan yang lain..!” jelas ustadz panjang lebar.

Pulang dari sana, aku merasa lega, rasanya beban yang selama ini ku tampung tuntaslah sudah, tak lupa juga ku beri tahu kepada sahabatku Rara, dan ternyaqta dia ikut senang dengan perubahanku, saat aku masuk ke rumah besar kami, ku dapati sebuah surat di atas meja, yang ternyata surat perceraian mama dan papa yang sudah di tanda tangani kedua belah pihak, aku tidak terlalu kaget dengan semua ini, karna aku sudah menduga bahwa ini semua pasti akan terjadi, sebuah tangan menyentuh ku dari belakang, yang ternyata tangan papa,...
“ maafin papa...!”
Selepas papa mengucapkan kata-kata itu, aku langsung memeluk tubuh papa, aku berusaha menahan air mata yang keluar dari kelopak mataku, tetapi semua telah sia-sia, dengan lembut butiran bening itu mengalir membasahi pipiku, aku melepas pelukan papa..
“ papa gak usah minta maaf, ini bukan salah siapa-siapa. Mika akan mencoba untuk mengerti jalan yang papa dan mama ambil..!”
“ terima kasih sayang, papa akan selalu sayang sama kalian..! ucap papa kembali memelukku.
Tiba-tiba mama keluar dari pintu samping, aku melihat mama menangis ku tandai dengan matanya yang membengkat, ku hampiri mama..
“ jangan nangis lagi ma!”
 Ku hapus air mata di kedua belah matanya,
“ aku udah mengerti ma, mungkin ini jalan yang terbaik untuk keluarga kita..!”
Mama mengangguk lesu, aku melihat kepergian papa.
Dua minggu sudah semenjak perceraian itu, aku dapat melihat semua telah berubah, kami sudah membuka lembaran baru, juga dengan semangat yang baru untuk tetap berada dalam drama kehidupan ini hingga buku kehidupan dan cerita-cerita kami tertutup rapi, hanya album yang bisa kami jadikan kenangan.


tamat.

Karangan: ipahalhabsyi